Penanaman sikap bukan kegiatan yang cukup dilakukan sekali-kali atau hanya dilakukan selintas saja, tetapi harus dilakukan terus-menerus sehingga menjadi pembiasaan. Pembiasaan yang sudah dilakukan anak pun harus terus dikuatkan sampai menjadi sikap yang menetap atau karakter.Untuk itu perlu langkah serius untuk melaksanakan pembudayaan terhadap penanaman sikap pada anak.
Pembudayaan berarti tindak lanjut dari 5 langkah yang diterapkan pada penanaman sikap, yaitu:
mengetahui yang baik ( knowing the good ),
memikirkan yang baik (thinking the good ),
merasakan yang baik (feeling the good ), dan
melakukan yang baik (acting the good)
membiasakan yang baik (habituating the good).
Pembudayaan dilakukan dengan memasukkan proses penanaman sikap ke dalam kegiatan yang lebih bersifat permanen, yakni dimasukkan ke dalam kegiatan harian. Guna pelaksanaannya menjadi konsisten, disusun Standar Operasional Prosedur pelaksanaan kegiatan harian. Standar Operasional Prosedur (SOP) ditujukan untuk para guru, pengelola, dan semua orang yang bekerja dengan anak di forum PAUD tersebut yang memfasilitasi anak berguru dan membangun sikap.
SOP menjadi penting alasannya ialah penanaman sikap diberikan melalui keteladanan, pembiasaan, dan pengulangan dalam kehidupan sehari-hari. Oleh lantaran itu, penanaman sikap memerlukan 5 K menyerupai pada gambar diatas, yakni:
Konsensus, ada janji bersama antar guru dan orang renta perihal abjad yang akan dibangun dan cara membangunnya.
Komitmen, ada ketaatan dan tanggung jawab bersama oleh guru dan orang renta dalam melaksanakan janji penerapan abjad pada anak.
Konsisten, ada keajegan dalam proses penerapan abjad melalui kegiatan bermain, baik di forum PAUD maupun di keluarga.
Kontinu, dilakukan secara terus menerus sepanjang hari sepanjang tahun sampai sikap tersebut menjadi kebiasaan selanjutnya terpatri dalam jiwa dan pikiran anak sehingga membantuk karakter.
Konsekuen, ada konsekuensi yang diterapkan dan harus dipatuhi baik oleh guru, orang tua, maupun anak bila terjadi pelanggaran terhadap komitmen pengembangan abjad anak. Konsekuensi yang diterapkan untuk anak tidak bersifat eksekusi fi sik. Bentuk dan caranya sanggup disepakati dengan anak, contohnya anak boleh menentukan tidak menonton kartun kesukaannya atau membereskan daerah tidur.
Penanaman abjad pada anak harus dimulai dari guru lantaran anak peniru ulung. Semua yang ditangkap indera anak akan menjadi sikap anak kalau dilakukan terus-menerus. Guru dan seluruh orang cukup umur yang ada di satuan PAUD harus menyadari bahwa mereka ialah model bagi pengembangan sikap anak. Oleh lantaran itu, patut guru dan semua orang cukup umur di satuan PAUD mempunyai kesamaan pikir, kesamaan perilaku, dan kesamaan tanggung jawab dalam menanamkan sikap pada anak.Untuk membangun sikap yang konsisten pada guru dan orang cukup umur lainnya, perlu disusun Standar Operasional Prosedur (SOP) pada setiap kegiatan rutin yang dilakukan sehari-hari bersama anak.
Standar Operasional Prosedur dalam tatanan Kurikulum 2013 Pendidikan Anak Usia Dini bukan hanya menjadi lampiran dari KTSP, melainkan dokumen penting yang memuat mekanisme penanaman abjad bawah umur usia dini dibentuk. SOP disusun oleh satuan PAUD dengan mengacu pada visi, misi, dan tujuan satuan. Contoh pembuatan SOP dipaparkan lebih jauh dalam Pedoman Penyusunan SOP.
Sama halnya dengan pengembangan pengetahuan dan keterampilan anak yang dilakukan dengan cara yang menyenangkan, pengembangan sikap pun dilakukan dengan cara yang menyenangkan, jauh dari unsur paksaan dan tekanan. Pemaksaan dan bahaya tidak akan bisa menumbuhkan kesadaran dan sikap kasatmata anak.
Setelah kemarin membagikan strategi penanaman sikap dan membudayakan sikap baik pada anak usia dini, sekarang saya bagikan beberapa teladan penanaman sikap pada siswa PAUD Taman Kanak-kanak RA meliputi: Menanamkan sikap adanya dewa melalui ciptaan-nya, menghargai diri sendiri, orang lain dan lingkungan sekitar sebagai rasa syukur kepada tuhan, sikap hidup sehat, sikap ingin tahu, sikap kreatif, sikap estetis, sikap percaya diri, sikap taat pada aturan, sikap mandiri, sikap sabar, sikap peduli, sikap toleran, sikap sopan, sikap tanggung jawab, sikap menyesuaikan diri, dan sikap jujur.
Yuk kita simak beberapa teladan berikut satu per satu yang disebutkan diatas:
1. Mengenalkan sikap “ADANYA TUHAN MELALUI CIPTAAN-NYA” Kegiatan: Bermain di halaman
Guru mengajak belum dewasa ke halaman untuk memperhatikan benda-benda di sekitarnya.
Pendidik menanyakan ”apa saja benda yang ditemui anak-anak. Siapa yang membuat bunga, kupu-kupu, kerikil dsb.”
Mendiskusikan benda-benda lain ciptaan Tuhan
Diskusi kegunaan benda-benda ciptaan Tuhan
Diskusi bagaimana kalau benda-benda ciptaan Tuhan tidak ada
Mendiskusikan apa yang harus dilakukan biar ciptaan Tuhan yang ada di halaman itu tidak rusak.
Guru mencontohkan ucapan takjub ketika melihat ciptaan Tuhan, misalnya, ”...Masya Allah ... cantik sekali bunganya...” atau ” ...Puji Tuhan halus sekali bulu kelinci ini...”, dan sebagainya.
Mengajak anak untuk membereskan dan memelihara tanaman yang ada di halaman satuan PAUD.
2. Mengenalkan sikap ” MENGHARGAI DIRI SENDIRI, ORANG LAIN DAN LINGKUNGAN SEKITAR SEBAGAI RASA SYUKUR KEPADA TUHAN” Kegiatan : berdiskusi perihal bersyukur
Guru menunjukkan foto keluarga setiap anak.
Guru menanyakan ”yang dirasakan” pada keluarga atau teman.
Mendiskusikan perasaan anak bila ada keluarga atau sahabat yang sakit.
Mendiskusikan apa yang harus dilakukan pada keluarga dan teman.
Mendiskusikan bagaimana caranya mengasihi keluarga dan teman?
Guru mencontohkan cara berbicara santun pada orang bau tanah dan teman.
Anak diajak berdiskusi sikap yang dilarang dilakukan pada keluarga dan teman
Mempraktikkan cara mengucapkan syukur kepada Tuhan sesuai dengan agamanya.
3. Menanamkan sikap “PERILAKU HIDUP SEHAT” Kegiatan: Memeriksa gigi
Guru menunjukkan gambar gigi dan mendiskusikan ”kegunaan gigi”
Menanyakan apakah gigi bisa sakit dan bagaimana kalau giginya sakit
Mendiskusikan apa yang harus dilakukan biar giginya tidak sakit
Mempraktikkan cara menggosok gigi yang benar.
Mengajak anak secara bergantian memeriksakan giginya ke dokter kunjung.
Selagi menunggu temannya diperiksa, belum dewasa diajak main tebak-tebakan "gunanya melaksanakan sesuatu untuk merawat kesehatan diri" dengan memakai kartu gambar. Misalnya, gambar yang sedang mandi, mandi gunanya untuk .., mencuci tangan gunanya untuk ..., mengelap meja gunanya untuk ..., membuang sampah di kawasan sampah gunanya untuk... dst.
4. Menanamkan “SIKAP INGIN TAHU” Kegiatan: Bermain dengan magnet Pijakan / Dukungan Guru
Guru menyiapkan alat-alat yang akan dijadikan materi praktik contohnya magnet, kaleng, paku, plastik, kertas, daun dll.”
Anak-anak diminta untuk mengamati bahan-bahan yang disiapkan
Anak dipersilakan untuk mencoba memakai magnet kepada benda-benda yang disediakan
Berdiskusi perihal ”benda yang melekat dan yang tidak bisa melekat di magnet ?”
Berdiskusi mengapa ada benda yang melekat dan ada benda yang tidak melekat pada magnet?
Guru memberi penghargaan ketika anak sanggup mengelompokkan benda yang sanggup melekat dan yang tidak sanggup menempel
Anak dipersilakan mencobakan kepada benda lainnya yang ada di ruangan atau halaman.
Anak-anak mengamati dan mencicipi bahan-bahan yang tersedia
Guru menuliskan resep dengan gambar atau kata sederhana
Anak secara bergilir menuangkan materi sesuai dengan resep yang ditulis atau yang dibacakan guru, kemudian gotong royong mengadoni materi tersebut sehingga menjadi gabungan yang siap dibentuk
Anak berdiskusi gagasan perihal bentuk gabungan yang akan dibuat oleh anak
Guru memberikan hukum bahwa gabungan tidak kotor
Anak diperkenankan untuk memakai materi lainnya bila diperlukan
Guru mempertajam gagasan anak dengan bertanya,” mengapa ini.. untuk apa.. apa yang terjadi bila..dst”
Anak menuangkan gagasan menjadi karya kreatif.
Guru membiasakan anak untuk memecahkan masalahnya sendiri bila ia menemukan kesulitan melaksanakan sesuatu
Guru memberi dukungan seperlunya dengan sedikit bantuan, teladan atau dengan kalimat, misalnya, "bagaimana kalau begini.. bisa tidak kalau ...."
Guru memberi penghargaan pada keberhasilan yang dicapai anak
6. Menanamkan “SIKAP ESTETIS” Kegiatan: Membangun dengan balok unit
Guru membacakan buku dongeng yang sesuai dengan tema
Anak dipersilakan memikirkan rencana bangunan yang akan dibuatnya.
Guru menunjukkan cara menyusun balok yang rapi sesuai dengan presisinya.
Mendiskusi dengan anak mengapa menyusun balok harus rapi.
Anak mengemukakan pendapat bagaimana biar hasil karya menjadi rapi dan bersih.
Anak membangun gagasannya dengan balok unit.
Guru memberikan memakai asesoris untuk menambah keindahan dan keutuhan gagasan.
Guru memberikan penghargaan pada setiap hasil karya anak dengan menekankan pada keindahan dan kerapian kerjanya.
Guru memberikan hukum bermain serta alat pengaman yang harus digunakan
Mendiskusikan siapa yang akan memulai
Guru mendukung semua anak berani mencoba permainan
Anak mencoba permainan dengan pengawasan Tim Teknis ahli
Setelah selesai semua, guru mengajak mendiskusikan apa yang dirasakan anak ketika mengikuti permainan
Guru menghargai setiap perjuangan yang dilakukan anak sebagai proses pembentukan sikap percaya diri
8. Menanamkan “SIKAP TAAT PADA ATURAN” Kegiatan : Main tugas berkendaraan di jalan raya Sebelum bermain:
Mendiskusikan keadaan di jalan raya
Mendiskusikan hukum di jalan raya
Mendiskusikan mengapa harus mengikuti aturan
Anak memberikan teladan sikap menaati aturan
Contoh sikap yang tidak mengikuti aturan
Setelah bermain:
Mendiskusikan hukum di satuan PAUD
Mendiskusikan teladan sikap yang taat aturan
Akibat kalau tidak disiplin mengikuti aturan?
Bagaimana menerapkan aturan?
Bagaimana kalau ada sahabat tidak disiplin mengikuti aturan?
Guru menguatkan sikap taat yang ditunjukkan anak dengan kalimat, contohnya ”Anisa taat pada hukum bermain, alasannya sudah mengembalikan mainan ke tempatnya semula.”
9. Menanamkan “SIKAP MANDIRI” Kegiatan: Membuat patung dari tanah liat
Mendiskusikan materi main dan kegunaannya
Mendiskusikan gagasan anak membuat sesuatu dengan tanah liat. Setiap anak dipersilakan membuat sesuai dengan keinginannya untuk membangun kemandirian dalam berpikir
Guru mengenalkan kata berdikari dalam bekerja
Mendiskusikan arti mandiri
Mendiskusikan teladan sikap berdikari ketika bermain
Anak membuat karya dengan tanah liat
Guru memberi penghargaan pada perjuangan anak untuk bekerja secara mandiri.
Setelah acara guru melaksanakan menguatkan dengan menekankan pada sikap berdikari anak, misalnya, "semua belum dewasa ibu sudah bisa mandiri, mengerjakan sendiri tanpa minta dibantu orang lain."
10. Menanamkan “SIKAP SABAR” Kegiatan : Membacakan buku ceritera
Guru membacakan buku yang menceritakan anak sabar
Diskusi pemahaman perihal sabar
Mendiskusikan mengapa harus bersabar
Contoh sikap yang bersabar
Apa akhir nya kalau tidak bersabar
Bagaimana kalau ada sahabat yang tidak bersabar?
Menerapkan sikap sabar ketika bermain, menunggu giliran, menunggu dijemput, dan acara lainnya.
Guru menghargai sikap sabar yang ditunjukkan anak dengan cara menguatkan melalui kalimat, misalnya, ”terima kasih kau sudah sabar menunggu dijemput mama tanpa marah-marah.”
11. Menanamkan “SIKAP PEDULI” Kegiatan: Makan Bersama
Guru mempersilakan semua anak duduk di dingklik sekeliling meja. Kemudian meminta mereka untuk memperhatikan siapa temannya yang belum hadir.
Guru memastikan semua anak yang sudah duduk sudah mencuci tangannya dengan bersih.
Guru mengajak semua anak memperhatikan temannya apakah ada yang tidak membawa bekal?
Guru mengajak anak untuk saling membuatkan kuliner yang dibawanya
Guru mengucapkan terima kasih alasannya belum dewasa sudah mau membuatkan dan peduli dengan teman.
Guru memberikan kepada anak siapa yang akan memimpin doa sebelum makan. Kemudian mempersilakan makan bekal masing-masing.
Setelah makan guru mengajak semua anak untuk membereskan dan membersihkan kembali meja dan ruangan dari sisa-sisa makanan.Setelah semua rapi, guru mengajak anak bercerita perihal sikap "peduli"
12. Menanamkan “SIKAP TOLERAN” Kegiatan: bermain tebak-tebakan dalam kelompok kecil
Guru mengajak anak bermain di halaman. Kemudan anak dibagi dalam kelompok kecil.
Setiap kelompok membuat harus menebak ciri-ciri yang disampaikan kelompok lain.
Guru memperhatikan bagaimana anak membuatkan gagasan dalam kelompok.
d. Guru memperhatikan cara kelompok memilih dan mengambil kesimpulan tentang”benda” yang akan ditebak kelompok lainnya.
e. Anak bermain tebak-tebakan. Satu kelompok menyebutkan ciri-ciri, kelompok lain menebaknya.
f. Setelah bermain guru menanyakan apa yang dirasakan anak.
g. Guru menghargai sikap toleran yang dimunculkan anak ketika berdiskusi, misalnya. ”tadi ibu melihat ketika diskusi kalian saling menghargai pendapat teman. Itu namanya toleransi.”
h. Guru memberikan kosakata toleran dan meminta anak untuk memberi teladan sikap toleran.
i. Guru memberikan penguatan berupa kata gembira alasannya belum dewasa sanggup mengikuti keadaan dengan lingkungan dan peraturan berbeda.
13. Menanamkan “SIKAP SOPAN” Kegiatan : Panggung boneka
Guru menyiapkan beberapa boneka dan panggung boneka.
Anak-anak diminta duduk tertib untuk mengikuti dongeng panggung boneka perihal anak yang sopan.
Guru memainkan tokoh boneka sebagai anak yang berperilaku sopan dan boneka yang menjadi tokoh anak tidak sopan.
Guru menerapkan kata ”tolong, maaf, terima kasih, permisi.” sebagai teladan sikap sopan dengan nada rendah dan riang.
Setelah selesai guru mengajak diskusi perihal tokoh mana yang disukai anak, mengapa..?
Guru menanyakan pada anak sikap sopan santun dan apa akhirnya kalau tidak sopan santun
Bagaimana kalau ada sahabat yang tidak sopan?
14. Menanamkan “ SIKAP TANGGUNG JAWAB” Kegiatan : Membereskan kembali mainan
Guru mengajak anak merapikan kembali mainan yang sudah dipakai sesuai dengan kawasan semula
Setelah selesai anak diajak duduk untuk mengikuti recalling
Guru mengucapkan terima kasih alasannya belum dewasa sudah bertanggung jawab mengembalikan mainan ke kawasan semula sehingga ruangan rapi kembali.
Guru mendiskusikan pengertian tanggung jawab berdasarkan pikiran anak
Anak mendiskusikan teladan sikap tanggung jawab
Anak mendiskusikan cara mengajak temannya untuk bertanggung jawab.
15. Menanamkan “SIKAP MENYESUAIKAN DIRI” Strategi: berbelanja di pasar modern
a. Mendiskusikan tujuan dan acara yang akan dilakukan di supermarket
b. Mendiskusikan hukum dan sikap yang diharapkan di supermarket
c. Mencontohkan bersikap hening selama di situasi dan lingkungan baru
d. Mencontohkan sikap memilah yang harus dilakukan dan dilarang dilakukan
e. Bersikap sabar dan hening ketika harus mengantri dan menunggu
f. Memperlihatkan kehati-hatian kepada orang yang belum dikenal
g. Mempersilahkan anak berbelanja sesuai dengan keperluannya dan uang yang tersedia
h. Setelah acara guru menanyakan perasaan anak.
i. Guru memberikan penguatan berupa kata gembira alasannya belum dewasa sanggup mengikuti keadaan dengan lingkungan dan peraturan berbeda.
Guru memainkan boneka tangan dengan tokoh si jujur dan si pembohong.
Tokoh si jujur mencerminkan sikap yang tidak berbohong, menghargai miliki teman, mengembalikan benda yang bukan miliknya, mengakui kesalahannya, meminta izin bilamenggunakan benda orang lain.
Setelah selesai bersama anak mendiskusikan; pengertian jujur menurut, mengapa harus jujur, teladan sikap jujur dan tidak jujur.
Penanaman sikap tidak sekadar memberi pengetahuan baik dan buruk, tetapi lebih pada menumbuhkan kesadaran dan menerapkan akan nilai baik dan jelek dalam sikap sehari-hari. Oleh alasannya ialah itu, penanaman sikap harus dilakukan secara lembut dan menyenangkan. Suasana dan lingkungan yang kondusif dan nyaman, perlu diciptakan dalam proses penanaman nilai-nilai sikap. Untuk memperdalam pemahaman sikap yang diharapkan, setiap nilai sikap yang telah dimasukkan ke dalam planning pembelajaran harus diterapkan secara berkelanjutan.
Penanaman nilai sikap terus diterapkan dalam bentuk pembiasaan yang direncanakan secara matang oleh satuan PAUD. Sikap yang diterapkan dimasukkan dalam RPPH atau dalam SOP. Misalnya di RPPH hari ini dicantumkan “berdoa sebelum dan setelah makan”. Dalam RPPH ahad depan “berdoa sebelum dan setelah makan” tidak dicantumkan kembali, tetapi dimasukkan ke dalam SOP sehingga aktivitas berdoa sebelum dan setelah makan terus diterapkan setiap kali anak menjelang dan setelah makan di setiap hari dan sepanjang tahun.
5 langkah yang perlu diperhatikan dalam menanamkan sikap pada anak:
Anak dikenalkan dengan sikap dan nilai yang baik dan seharusnya (knowing the good ),
Anak diajak membahas untuk memikirkan dan mengerti mengapa ini baik dan itu tidak baik (the good),
Anak diajak mencicipi manfaat kalau sikap baik itu diterapkan ( feeling the good), dan
Anak diajak melaksanakan sikap yang baik (acting the good).
Anak dibiasakan untuk menerapkan sikap baik dalam setiap kesempatan ( habituating the good).
Contoh sederhana, Guru menanamkan sikap membuang sampah pada tempatnya.
Anak diajak mengamati halaman yang banyak sampah (kotor, banyak lalat, bau, dll.)
Anak diajak bicara wacana apa yang terjadi kalau halaman kotor (lalat yang kotor dapat melekat pada makanan yang mengakibatkan sakit perut).
Anak diajak mencicipi bagaimana rasanya kalau akhir buang sampah sembarangan tersebut menimpa dirinya atau keluarganya. Lalu anak diajak mengambil kesimpulan apa yang harus dilakukan biar akhir buang sampah sembarangan tersebut tidak terjadi.
Bersama-sama membersihkan sampah yang kotor di halaman untuk dibuang ke daerah sampah.
Menyediakan daerah sampah untuk membiasakan anak membuang sampah pada tempatnya.
Penanaman sikap diadaptasi dengan tahapan usia dan perkembangan anak. Semakin muda usia anak maka modeling guru/orang bau tanah menjadi sangat dominan. Pada anak yang sudah lebih besar, pertolongan guru/orang bau tanah untuk membangun kesadaran anak lebih diperlukan.
Perkembangan sosial-emosional berdasarkan para ahli, bertujuan untuk mengetahui diri sendiri dan bekerjasama dengan orang lain yaitu sahabat sebaya dan orang dewasa, bertanggung jawab terhadap diri sendiri maupun orang lain, dan berperilaku sesuai dengan sikap prososial. Perkembangan sosial, sebagaimana dikatakan Muhibbin (1999:35), merupakan proses pembentukan social self (pribadi dalam masyarakat), yakni pribadi dalam keluarga, budaya, bangsa, dan seterusnya.
Adapun Hurlock menyampaikan bahwa perkembangan sosial merupakan perolehan kemampuan berperilaku yang sesuai dengan tuntutan sosial. Untuk menjadi individu yang bisa bermasyarakat dibutuhkan tiga proses sosialisasi. Ketiga proses tersebut nampak terpisah, tetapi bahu-membahu saling berhubungan:
belajar untuk bertingkah laris dengan cara yang sanggup diterima masyarakat
belajar memainkan tugas sosial yang ada di masyarakat
mengembangkan sikap atau tingkah laris sosial terhadap individu lain dan kegiatan sosial yang ada di masyarakat (Hurlock:250).
Fase-fase perkembangan sosial emosional anak usia dini
1. Fase Pembentukan Dasar Kepercayaan vs Tidak Percaya (0-12-18 Bulan)
Dalam fase ini anak mengalami krisis pertama dalam kehidupannya.Krisis ini menyangkut krisis kepercayaan terhadap lingkungan. Perawatan yang diberikan pada bayi merupakan prasyarat untuk timbulnya percaya dalam diri bayi tewrhadap lingkungannya.
Untuk membangun dasar kepercayaan tersebut maka pemenuhan kebutuhan bayi perlu dilakukan secara teratur. Misalnya : kebutuhab terhadap makanan, kebersihan (mandi, ganti, dan sebagainya. Di samping itu dibutuhkan juga cara-cara penanganan dalam merawat bayi. Perawatan ini haruslah menjadikan rasa aman dan rasa terlindungi pada bayi. Hal tersebut merupakan faktor penentu untuk timbulnya rasa percaya dalam diri bayi. Apabila bayi tidak memperoleh perawatan yang demikian maka yang tumbuh dalam diri bayi yakni rasa tidak percaya atau curiga.
2. Fase Autonomi vs Malu dan ragu-ragu (18 bulan -3 tahun)
Bermodalkan rasa percaya dan sejalan dengan perkembangan baik fisik, kognitif dan bahasa, anak mulai mengeksplorasi lingkungannya. Ia bergerak kesana-kemari. Pada masa ini anak mencicipi kebebasannya. Seiring dengan hal itu berkembang pula krisis tahap ke dua dalam diri anak. Rasa aib ini merupakan awal dari kepekaan anak terhadap sesuatu yang salah dan yang benar. Oleh alasannya yakni itu tugas orang bau tanah sangat penting dalam mengarahkan perkembangan psikososial anak berkembang dengan baik.
Kontrol yang terlalu ketat menimbulkan autonomi anak tidak berkembang. Sebaliknya kontrol yang terlalu longgar menimbulkan autonomi anak kurang peka terhadap mana yang salah dan mana yang benar.
3. Fase inisiatif vs Merasa Bersalah (3-6 tahun)
Pada tahap ini krisis yang terjadi dalam diri anak yakni antara inisiatif dan melaksanakan inisiatif tersebut, dan rasa bersalah untuk melaksanakan apa yang ingin dilakukan oleh anak. Oleh alasannya yakni itu anak perlu berguru mengendalikan perasaan ini. Salah satu cara yang sanggup dilakukan yakni dengan jalan menanamkan rasa tanggung jawab dalam diri anak. Di samping itu anak masih perlu mencicipi kebebasannya. Apabila perkembangan rasa besalah melebihi perkembangan inisiatif anak maka anak akan menjadi anak yang tidak sanggup mengespresikan keperibadiannya lantaran takut diangap salah. Anakakan diliputi rasa ragu-ragu.
Bertitik tolak dari pendapat para hebat tersebut di atas maka sanggup diketahui bahwa perkembangan psikososial merupakan suatu bentuk perkembangan yang bersifat kumulatif. Hal ini berarti bahwa perkembangan psikososial pada tahap awal akan mensugesti perkembangan psikososial pada tahap selanjutnya. Oleh alasannya yakni itu apabila terjadi kendala dalam perkembangan dalam perkebangan psikososial pada tahap awal maka keadaan ini akan mensugesti perkembangan psikososial pada tahap selanjutnya.
Perkembangan sosialisasi pada anak ditandai dengan kemampuan anak untuk mengikuti keadaan dengan lingkungan, menjalin pertemanan yang melibatkan emosi, pikiran, dan perilakunya. Perkembangan sosialisasi anak yakni proses dimana anak mengembangkan keterampilan interpersonalnya, berguru menjalin persahabatan, meningkatkan pemahamannya perihal orang di luar dirinya, dan juga berguru kebijaksanaan sehat susila dan perilaku.
Perkembangan sosial emosional melibatkan pemahaman yang mendalam perihal diri sendiri dan orang lain. Feeney (et.al) menyatakan bahwa perkembangan sosial emosional mencakup; kompetensi sosial (kemampuan dalam menjalin kekerabatan dalam kelompok sosial), kemampuan sosial (perilaku yang dipakai dalam situasi sosial), kognisi sosial (pemahaman terhadap pemahaman, tujuan, dan sikap diri sendiri dan orang lain), sikap sosial (kesediaan untuk berbagi, membantu, bekerjasama, merasa nyaman dan aman, dan mendukung orang lain), serta penguasaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan dan moralitas (perkembangan dalam menentukan standar baik dan buruk, kemampuan untuk mempertimbangkan kebutuhan dan keselamatan orang lain).
Sosialisasi yakni suatu proses mental dan tingkah laris yang mendorong seseorang untuk menyesuaikan diri dengan keinginan yang berasal dari dalam diri. Sosialisasi merupakan proses dimana anak berguru untuk berperilaku sesuai dengan keinginan budaya dimana anak dibesarkan. Sebagaimana Manning menyatakan "socialization is the process by which children learn to be have in acceptable manner, as defined by culture of which the family is apart". Sementara itu Drever mengemukakan pengertian sosialisasi sebagai suatu proses dimana individu mengikuti keadaan dengan lingkungan sosial dan menjadi dikenali, dan bekerjasama dengan anggota kelompok tersebut.
Ada beberapa faktor yang mensugesti kemampuan anak dalam bersosialisasi, yaitu: (1) lingkungan keluarga, (2) lingkungan sekolah, (3) lingkungan kelompok masyarakat, (4) faktor dari dalam diri anak.
Proses sosialisasi membutuhkan 3 (tiga) keterampilan khusus, yiatu: (1) proses imitasi, (2) proses identifikasi, dan (3) proses internalisasi. Proses imitasi yakni proses dimana anak berguru menggandakan sikap yang sanggup ditterima secara sosial. Anak melhat secara eksklusif sikap orang lain yang dijadikan contoh/model. Proses identifikasi yakni terjadinya efek sosial pada anak, dimana anak ingin menjadi menyerupai orang lain yang dicontoh. Proses internalisasi yakni proses penanaman serta perembesan nilai-nilai. Dalam proses ini dibutuhkan pemahaman anak untuk membedakan nilai-nilai sosial yang baik dan buruk. Proses sosialisai juga diawali dengan adanya proses pengamatan terhadap sikap orang lain.
Bandura mengemukakan tahapan atau fase yang dilalui individu dalam mengamati sikap tertentu, yaitu; (1) memperhatikan (attention), (2) menyimpan (retention), (3) mereproduksi (reproduction), dan (4) motivasi (motivation).
Menurut Erikson, masa kanak-kanak merupakan citra awal individu sebagai seorang manusia, dimana prola sikap dan sikap yang diperoleh anak, akan menjadi peletak dasar bagi perkembangan anak selanjutnya. Pada anak usia 4-5 tahun sangat bahagia menggandakan pembicaraan maupun tindakan orang lain. Menurutnya, tahapan perkembangan psikososial pada anak pra sekolah yakni tahapan inisiatif atau prakarsa versus rasa bersalah. Pada tahap ini anak terlihat aktif dan mulai bermain serta menjalin komunikasi dengan belum dewasa lain. Anak mempunyai rasa ingin tahu yang besar dan memperlihatkan perhatian terhadap perbedaan jenis kelamin.
Ciri-ciri perkembangan sosial berdasarkan Steinberg (1995), Hughes (1995) dan Piaget (1996) adalah: (1) menentukan sahabat yang sejenis, (2) cenderung lebih percaya pada sahabat sebaya, (3) agresivitas lebih meningkat, (4) bahagia bergabung dalam kelompok, (5) memahami keberadaan bersama kelompok, (6) berpartisipasi dengan pekerjaan orang dewasa, (7) berguru membina persahabatan dengan orang lain, dan (8) memperlihatkan rasa setia kawan.
Dalam kaitannya dengan perkembangan emosi pada anak usia dini, terdapat 3 (tiga) pola dasar emosi yang timbul pada anak, yaitu takut, marah, dan cinta (fear, anger, and love). Emosi sanggup berubah bukan hanya disebabkan lantaran adanya perubahan perasaan, tetapi juga lantaran kondisi lingkungan yang dialami anak. Rasa takut sanggup timbul lantaran adanya peristiwa yang mendadak atau tidak terduga, dimana anak perlu menyesuaikan diri dengan situasi tersebut. Rasa murka biasa muncul pada belum dewasa untuk menarik perhatian orang lain. Rasa bahagia merupakan bentuk emosi yang memperlihatkan kegembiraan atau keriangan yang sanggup disertai dengan ekspresi tawa, senyum sebagai tanda relaksasi tubuh.
Karakteristik perkembangan emosi pada anak usia dini
Emosi anak berlangsung singkat
Emosi anak bersifat intense
Emosi anak bersifat temporer
Emosi anak muncul cukup sering
Respon emosi anak bermacam-macam
Emosi anak sanggup dideteksi dengan melihat tanda-tanda perilakunya
Kekuatan emosi anak sanggup berubah
Ekspresi emosi anak sanggup berubah
Menurut Piaget, anak berada pada tahap perkembangan kognitif pra-operasional (2-7 tahun) ditendai dengan egosentrisme yang kuat, gagasan imajinatif, bertindak berdasarkan pemikiran intuitif atau tidak berdasarkan pemikiran yang rasional. Menurut Kroh, bahwa emosi anak usia 4-5 tahun berada pada masa kegoncangan atau biasa disebut sebagai trotz period. Pada masa ini muncul tanda-tanda kenakalan yang umum terjadi pada anak, menyerupai menentang pada orang tua, memakai kata-kata kasar, dengan sengaja melanggar hal yang tidak boleh dan sebagainya.
Karakteristik perkembangan emosi anak usia 5-6 tahun
Memiliki keinginan untuk menyenangkan hati teman
Sudah lebih bisa mengikuti aturan
Sudah lebih berdikari di satu sisi, namun juga memperlihatkan ketergantungan di sisi lain
Sudah lebih bisa membaca situasi
Mulai bisa menahan tangis dan kekecewaan
Mulai sabar menunggu giliran
Menunjukkan kasih sayang terhadap saudara maupun teman
Menaruh minat pada kegiatan orang dewasa
Faktor-faktor yang mensugesti perkembangan emosi anak
Kematangan
Belajar: penyesuaian dan contoh
Inteligensi
Jenis kelamin
Status ekonomi
Kondisi fisik
Posisi anak dalam keluarga
Untuk mengembangkan kemampuan sosial dan emosi pada anak, maka pendidik mempunyai tugas yang sangat penting. Di antara tugas pendidik tersebut adalah:
a. Memberikan aneka macam stimulasi pada anak
Pendidik perlu memperlihatkan stimulasi edukatif pada anak supaya kemampuan sosial emosi anak berkembang sesuai tahapan usianya. Kegiatan berguru melalui permainan sanggup dioptimalkan dengan cara menstimulasi anak misalnya; mengajak anak terlibat dalam permainan kelompok kecil, melatih anak bermain bergiliran, mengajak anak menceritakan pengalamannya di depan kelas, melatih kesadaran anak untuk menyebarkan dalam kegiatan kemanusiaan bila terjadi bencana, dan sebagainya.
b. Menciptakan lingkungan yang kondusif
Pendidik perlu mengelola kelas yang memungkinkan anak mengembangkan kemampuan sosial emosinya terutama kesadaran anak untuk bertanggungjawab terhadap benda dan tidakan yang dilakukannya. Lingkungan ini berupa fisik dan psikis. Lingkungan fisik menekankan pada ruang kelas sebagai daerah anak berlatih kecakapan sosial emosinya. Sedangkan lingkungan psikis lebih ditekankan pada suasana lingkungan penuh cinta kasih sehingga merasa nyaman dan aman di kelas.
c. Memberikan contoh
Pendidik yakni pola konkrit bagi anak. Segala tindakan dan tutur kata pendidik anak diikuti oleh anak. Oleh lantaran itu pendidik seharusnya sanggup menjaga sikap sesuai dengan norma sosial dan nilai agama, menyerupai menghargai pendapat anak, bersedia menyimak keluh kesah anak, membangun sikap positif anak, berempati terhadap problem yang dihadapi anak, dan sebagainya.
d. Memberikan kebanggaan atas perjuangan yang dilakukan anak
Pendidik sebaiknya tidak sungkan memperlihatkan kebanggaan terhadap kecakapan sosial yang sudah dilakukan oleh anak secara proporsional. Pujian sanggup diberikan secara mulut maupun non lisan. Misalnya dengan kata-kata yang menyenangkan, atau dengan senyuman, pelukan, dan sumbangan tanda-tanda terentu yang bermakna untuk anak.
Dalam proses pembelajaran, aneka macam acara sanggup dikembangkan oleh pendidik supaya sanggup meningkatkan sosialisasi dan emosi anak. Di antara acara yang sanggup dikembangkan adalah:
Memberikan pilihan pada anak
Memberikan kesempatan pada anak untuk mengekspresikan kreativitasnya
Memberikan kesempatan pada anak untuk mengeksplorasi lingkungan
Mendorong anak untuk bekerja secara mandiri
Menghargai ide/gagasan anak
Membimbing anak untuk melaksanakan pemecahan masalah
Pembelajaran yaitu seuatu acara yang meliputi acara mencar ilmu dan mengajar. Kegiatan pembelajaran dilakukian menurut planning yang terorganisir secara sistematis yang meliputi tujuan pembelajaran, bahan pembelajaran dan acara pembelajaran yang meliputi metode dan media pembelajaran, penilaian pembelajaran, dan umpan balik pembelajaran. Suatu trencana pembelajaran dan pelaksanaannya perlu memperhatikan hal-halyang terkait dengan mencar ilmu bagaimana belajar, mencar ilmu bagaimana berpikir, mencar ilmu bagaimana melakukan, dan mencar ilmu bagaimana bekerja sama dan hidup bersama.
Sejalan dengan perkembangan anak usia dini, maka pembelajaran perlu menekankan pada empat aspek tersebut di atas. Hal tersebut menjadi faktor yang kritis dalam perkembangan anak yang bersangkutan. Oleh alasannya itu, pembelajaran yang direncanakan dan dilaksanakan pada forum pendidikan anak usia dini yang dilakukan dalam bentuk banyak sekali acara bermain perlu menekankan pada empat aspek tersebut di atas ditambah dengan aspek-aspek lain, mirip moral, sikap baik sebagai individu, sebagai anggota masyarakat, maupun sebagai makhluk Tuhan sesuasi dengan nilai-nilai keagamaan.
Sifat pertumbuhan dan perkembangan anak usia dini berlangsung secara stimulan dan holistik, sehingga pendekatan dan desain, serta pelaksanaan pembelajaran anak tersebut terintegrasi secara terpadu.
Di sisi lain, ada hal yang penting yang juga harus diperhatikan oleh pendidik anak usia dini dalam melaksanakan acara mencar ilmu mengajar. Hal penting tersebut yaitu berkaitan dengan metode serta seni administrasi dalam melaksanakan pengajaran bagi anak usia dini. Sukses tidaknya suatu pengajaran bagi anak usia dini di antaranya yaitu tergantung bagaimana seorang pendidik (pengajar) memakai strateginya.
Strategi Mengajar Anak Usia Dini
Ada beberapa seni administrasi dalam pelaksanaan acara pengajaran anak usia dini. Di antara seni administrasi tersebut adalah: (1) Perhatian Intens (2) Beri Dorongan (3) Berikan Umpan Balik Khusus (4) Berikian Model Atau Contoh,(5) Mendemontrasikan, (6) Menciptakan dan menambahkan tantangan, (7) Memberikan cara atau pemberian lainnya, serta (8) Memberikan isu secara langsung. Sedangkan dalam makalah ini akan dibatasi pada empat seni administrasi yang pertama yaitu :
1. Perhatian Intens
Dalam melaksanakan pengajaran seorang guru sebagai pendidik harus bisa memperlihatkan perhatian yang intens terhadap anak didik. Menaruh perhatian khusus terhadap anak semenjak usia dini sanggup membantu mengembangkan kemampuan berkomunikasi dan berbahasa, serta kemampuan awal membaca dan menulis dengan cara bermain dan bersenang-senang anak juga mulai sanggup mengembangkan kemampuan dasar berhitung, hal-hal konseptual dan kognitif serta konsep-konsep dasar ilmu alam dan pengetahuan teknis lainnya. Beberapa hal penting sanggup mereka peroleh pada ketika bermain mirip kemampuan memahami budaya dan seni, kemampuan memahami mahkluk hidup dan lingkungan sekitar, bangkitnya kesadaran terhadap kesehatan lingkungan, olahraga dan rekreasi.
Selain itu, biar setiap anak bisa memikul tanggung jawab kemajuanbangsa di masa yang akan datang, maka bawah umur (tidak terkecuali) harus mendapat perhatian dan kesempatan yang seluas-luasnya untuk tumbuh dan berkembang secara optimal, baik fisik, mental maupun sosial. Perhatian dan pemberian kesempatan tumbuh kembang pada anak usia dini harus merupakan tekad dan agresi yang ditunjukkan oleh keuarga, masyarakat dan pemerintah secara bersama-sama. Upaya ini sekaligus merupakan bentuk proteksi serta mewujudkan kesejahteraan anak dengan memperlihatkan jaminan terhadap pemenuhan hak-haknya tanpa adanya diskriminasi.
Sepanjang rentang kehidupan manusia, masa anak usia dini "periode keemasan atau golden period". Pada masa tersebut terjadi pembentukan dasar-dasar sikap dan sikap serta perkembangan banyak sekali dimensi kecerdasan (inteletual, emosional, sosial, spiritual, kinestetik dan seni) yang intensif. Periode keemasan tersebut hanya berlangsung satu kali di sepanjang rentang kehidupan manusia. Jika potensi-potensi dasar pada periode tersebut kurang memperoleh banyak sekali rangsangan maka tidak tidak mungkin kalau potensi anak akan karam atau tidak berfunsi sama sekali (lost of capacity) ketika ia tumbuh dan berubah menjadi pribadi-pribadi dewasa.
2. Beri Dorongan
Stimulasi harus dilakukan dalam suasana yangmenyenangkan, yaitu pola asuh yang otoritatif (demokratik). Artinya : pengasuh harus pekaterhadap isyarat-isyarat anak, memperhatikan minat, impian atau pendapat anak, tidak memaksakan kehendak pengasuh, penuh kasih sayang, dan kegembiraan, membuat rasa kondusif dan nyaman, memberi pola tanpa memaksa, mendorong keberanian untuk mencoba berkreasi, memperlihatkan penghargaan atau kebanggaan atas keberhasilan atau sikap yang baik, memperlihatkan koreksi bukan ancaman atau eksekusi bila anak tidak sanggup melaksanakan sesuatu atau ketika melaksanakan kesalahan.Pola asuh otoritatif penting untuk mengembangkan kreativitas anak.
Dengarkan omongan anak dorong anak untuk berani mengucapkan pendapatnya, hargai pendapat anak jangan memotong pembicaraan anak, jangan memaksakan pendapat orangtua atau melecehkan pendapat anak. Rangsanglah anak untuk tertarik mengamati dan mempertanyakan perihal banyak sekali hal dilingkungannya, beri kebebasan dan dorongan untuk mengembangkan khayalan, merenung, berfikir, mencoba dan mewujudkan gagasan. Berikan kebanggaan untuk hasil yang telah dicapainya walau sekecil apapun. Jangan menghentikan rasa ingin tahu anak jangan banyak mengancam atau menghukum, beri kesempatan untuk mencoba, asalkan tidak membahayakan dirinya atau orang lain. Bila anda semenjak dini mendorong Si Kecil untuk membuatkan dan memikirkan orang lain berarti telah membentuk sifat yang baik.
Contoh: Beri waktu. Buat seorang anak mencar ilmu berpakaian, melepas pakaian, mengancingkan kancing, mengikat tali sepatu, menutup retsleting atau mengancingkan kancing jepret membutuhkan waktu. Mengharapkan si dua tahun menarik celana memang mudah, tapi berharap ia bisa ahli mengikat tali sepatu sebelum ia masuk taman bermain tidaklah realistis. Anda harus terus memberi dorongan atau memotivasinya dengan sabar. Anda harus memberinya cukup membanyak waktu biar ia bisa menuntaskan satu tugas
3. Berikan Umpan Balik Khusus
Seorang pendidik anak usia dini tidak berhenti pada pelaksanaan acara pembelajaran, atau memberikan bahan pembelajaran kepada anak didi. Tetapi pembelajaran tersebut harus ditindak lanjuti dengan melaksanakan umpan balik terhadap anak sesudah selesai mengadakan acara pembelajaran.
Contoh: Menulis yaitu acara yang membutuhkan keterampilan motorik halus bab tangan. Keterampilan motorik halus bab tangan akan melibatkan banyak otot kecil: jari jemari, telapak tangan dan pergelangan tangan.
Ketika usia si kecil menginjak tahun kedua, sirkuit otak yang mengendalikan dan mengkoordinasikan gerakan tangannya masih berkembang pesat mirip di tahun pertama usianya. Di samping itu, bab otak lain yang berjulukan serebelum juga mulai berkembang. Serebelum bertugas mengatur waktu dan koordinasi untuk hampir semua kiprah motorik.
Latihan penting sekali untuk meningkatkan keterampilan motorik halus anak batita. Latihan menyerupai 'umpan balik' bagi otak mereka. Makin sering si kecil berlatih, makin pesatlah perkembangan sirkuit otaknya, dan makin baguslah kemampuan si kecil mengontrol dan mengkoordinasikan motorik halusnya.
4. Berikian Model Atau Contoh
Mengajarkan nilai kehidupan , kemanusiaan ,budaya dan pengembangan moral pada anak usia dini membutuhkan keteladanan dari orangtua, guru dan masyarakat . dan penanaman ini tidak hanya berlangsung dirumah saja tetapi juga berlangsung disekolah dan masyarakat . sesuai dengan tujuan pendidikan nasional yaitu mengembangkan potensi penerima didik biar menjadi insan yang beriman, bertaqwa, kepada tuhan YME berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, sanggup berdiri diatas kaki sendiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Contoh dalam pelajaran sosial contohnya dalam nilai kehidupan dan kemanusiaan yang ingin ditanamkan bagaimana hidup rukun di dalam keluarga, masyarakat berkasih sayang antar anggota keluarga, memelihara kebersihan lingkungan. mengajarkan nilai kebudayaan misal di kawasan Jakarta siswa harus tahu asal mula ondel-ondel terbuat dari apa, gunanya buat apa dan bagaimana cara memeliharanya.
Sedangkan mengajarkan pengembangan moral bagaimana bersikap kepada yang lebih bau tanah dan muda, dan yang paling penting seni administrasi mengajarkan nilai kehidupan, kemanusiaan, budaya dan moral pada anak usia dini kita harus memperlihatkan teladan atau pola terlebih dahulu kalau ingin anak kita sopan maka harus terlebih dahulu orangtuanya sopan lantaran anak usia dini itu melihat pola dari keluarga, masyarakat/lingkungan dan memang sedang berada pada proses imitasi atau meniru. Dan inipun harus berlangsung secara kontinu dan konsisten dari pendidik dan praktisi sosial.
Orangtua yaitu guru terbaik bagi anak termasuk ketika mengajarkan cara mengekspresikan emosi. Berikan pola pada bawah umur sikap yang sesuai ketika sedang murka atau sedih. Berikan pula beberapa pilihan lain bagaimana cara mengekspresikan kemarahan, kegembiraan atau kesedihan. Kembangkan sikap bertanggung jawab pada anak. Misal, jikalau anak menumpahkan minuman minuman ke lantai, maka ia harus membersihkan sendiri. Sebelumnya berikan pola dan klarifikasi mengapa ia harus melaksanakan itu.
Dari uraian di atas kiranya sanggup ditarik kesimpulan bahwa dalam melaksanakan acara pembelajaran ada faktor yang sangat penting yang harus diperhatikan oleh pendidik anak usia dini. Keberhasilan pembelajaran khususnya dan pendidikan pada umumnya harus memperhatikan strateginya.
Referensi
Depdikas RI, Buletin PADU (Jurnal Ilmiah Anak Usia Dini Edisi 03 Desember 2002), Jakarta, 2004
Gunarso, D. Singgih, Dasar dan Teori Perkembangan Anak, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2006
Hapidin, Model-Model Pendidikian untuk Anak Usia Dini, Jakarta: Ghiyats Alfiani Press, 2006
Jamaris, Martini, Perkembangan dan Pengembangan Anak Usia Taman Kanak-Kanak, Jakarta: Grasindo, 2006
Santoso, Sugeng, Pendidikan Anak Usia Dini, Jakarta: Citra Pendidikan, 2004
Ada beberapa taktik dalam pelaksanaan acara pengajaran anak usia dini. Di antara taktik tersebut adalah: 1. Perhatian Intens; 2. Beri Dorongan; 3. Berikan Umpan Balik Khusus; 4. Berikian Model Atau Contoh; 5. Mendemontrasikan; 6. Menciptakan dan menambahkan tantangan; 7. Memberikan cara atau pemberian lainnya; dan 8. Memberikan gosip secara langsung.
Sedangkan dalam hal ini akan dibatasi pada empat taktik yang pertama yaitu:
1. Perhatian Intens
Dalam melaksanakan pengajaran seorang guru sebagai pendidik harus bisa menawarkan perhatian yang intens terhadap anak didik. Menaruh perhatian khusus terhadap anak semenjak usia dini sanggup membantu mengembangkan kemampuan berkomunikasi dan berbahasa, serta kemampuan awal membaca dan menulis dengan cara bermain dan bersenang-senang anak juga mulai sanggup mengembangkan kemampuan dasar berhitung, hal-hal konseptual dan kognitif serta konsep-konsep dasar ilmu alam dan pengetahuan teknis lainnya.
Beberapa hal penting sanggup mereka peroleh pada ketika bermain mirip kemampuan memahami budaya dan seni, kemampuan memahami mahkluk hidup dan lingkungan sekitar, bangkitnya kesadaran terhadap kesehatan lingkungan, olahraga dan rekreasi.
Selain itu, supaya setiap anak bisa memikul tanggung jawab kemajuanbangsa di masa yang akan datang, maka bawah umur (tidak terkecuali) harus mendapat perhatian dan kesempatan yang seluas-luasnya untuk tumbuh dan berkembang secara optimal, baik fisik, mental maupun sosial.
Perhatian dan pemberian kesempatan tumbuh kembang pada anak usia dini harus merupakan tekad dan agresi yang ditunjukkan oleh keluarga, masyarakat dan pemerintah secara bersama-sama. Upaya ini sekaligus merupakan bentuk proteksi serta mewujudkan kesejahteraan anak dengan menawarkan jaminan terhadap pemenuhan hak-haknya tanpa adanya diskriminasi.
Sepanjang rentang kehidupan manusia, masa anak usia dini "periode keemasan atau golden period". Pada masa tersebut terjadi pembentukan dasar-dasar sikap dan sikap serta perkembangan banyak sekali dimensi kecerdasan (inteletual, emosional, sosial, spiritual, kinestetik dan seni) yang intensif. Periode keemasan tersebut hanya berlangsung satu kali di sepanjang rentang kehidupan manusia.
Jika potensi-potensi dasar pada periode tersebut kurang memperoleh banyak sekali rangsangan maka tidak tidak mungkin kalau potensi anak akan karam atau tidak berfunsi sama sekali (lost of capacity) ketika ia tumbuh dan menjelma pribadi-pribadi dewasa.
2. Beri Dorongan
Stimulasi harus dilakukan dalam suasana yang menyenangkan, yaitu pola asuh yang otoritatif (demokratik). Artinya : pengasuh harus peka terhadap isyarat-isyarat anak, memperhatikan minat, harapan atau pendapat anak, tidak memaksakan kehendak pengasuh, penuh kasih sayang, dan kegembiraan, membuat rasa kondusif dan nyaman, memberi pola tanpa memaksa, mendorong keberanian untuk mencoba berkreasi, menawarkan penghargaan atau kebanggaan atas keberhasilan atau sikap yang baik,memberikan koreksi bukan ancaman atau eksekusi bila anak tidak sanggup melaksanakan sesuatu atau ketika melaksanakan kesalahan.
Pola asuh otoritatif penting untuk mengembangkan kreativitas anak. Dengarkan omongan anak dorong anak untuk berani mengucapkan pendapatnya, hargai pendapat anak jangan memotong pembicaraan anak, jangan memaksakan pendapat orangtua atau melecehkan pendapat anak. Rangsanglah anak untuk tertarik mengamati dan mempertanyakan ihwal banyak sekali hal dilingkungannya, beri kebebasan dan dorongan untuk mengembangkan khayalan, merenung, berfikir, mencoba dan mewujudkan gagasan.
Berikan kebanggaan untuk hasil yang telah dicapainya walau sekecil apapun. Jangan menghentikan rasa ingin tahu anak jangan banyak mengancam atau menghukum, beri kesempatan untuk mencoba, asalkan tidak membahayakan dirinya atau orang lain. Bila anda semenjak dini mendorong Si Kecil untuk menyebarkan dan memikirkan orang lain berarti telah membentuk sifat yang baik.
3. Berikan Umpan Balik Khusus
Seorang pendidik anak usia dini tidak berhenti pada pelaksanaan acara pembelajaran, atau memberikan bahan pembelajaran kepada anak didi. Tetapi pembelajaran tersebut harus ditindak lanjuti dengan melaksanakan umpan balik terhadap anak sehabis selesai mengadakan acara pembelajaran.
Menulis yakni acara yang membutuhkan keterampilan motorik halus bab tangan. Keterampilan motorik halus bab tangan akan melibatkan banyak otot kecil: jari jemari, telapak tangan dan pergelangan tangan.
Ketika usia si kecil menginjak tahun kedua, sirkuit otak yang mengendalikan dan mengkoordinasikan gerakan tangannya masih berkembang pesat mirip di tahun pertama usianya. Di samping itu, bab otak lain yang berjulukan serebelum juga mulai berkembang. Serebelum bertugas mengatur waktu dan koordinasi untuk hampir semua kiprah motorik.
Latihan penting sekali untuk meningkatkan keterampilan motorik halus anak batita. Latihan mirip "umpan balik" bagi otak mereka. Makin sering si kecil berlatih, makin pesatlah perkembangan sirkuit otaknya, dan makin baguslah kemampuan si kecil mengontrol dan mengkoordinasikan motorik halusnya.
4. Berikian Model Atau Contoh
Mengajarkan nilai kehidupan, kemanusiaan, budaya dan pengembangan moral pada anak usia dini membutuhkan keteladanan dari orangtua, guru dan masyarakat. dan penanaman ini tidak hanya berlangsung dirumah saja tetapi juga berlangsung disekolah dan masyarakat. sesuai dengan tujuan pendidikan nasional yakni mengembangkan potensi akseptor didik supaya menjadi insan yang beriman, bertaqwa, kepada tuhan YME berakhlak mulia, sehat, berilmu, cakap, kreatif, sanggup berdiri diatas kaki sendiri dan menjadi warga Negara yang demokratis serta bertanggung jawab.
Dalam pelajaran sosial contohnya dalam nilai kehidupan dan kemanusiaan yang ingin ditanamkan bagaimana hidup rukun di dalam keluarga, masyarakat berkasih sayang antar anggota keluarga, memelihara kebersihan lingkungan. mengajarkan nilai kebudayaan misal di kawasan Jakarta siswa harus tahu asal mula ondel-ondel terbuat dari apa, gunanya buat apa dan bagaimana cara memeliharanya.
Sedangkan mengajarkan pengembangan moral bagaimana bersikap kepada yang lebih bau tanah dan muda, dan yang paling penting taktik mengajarkan nilai kehidupan, kemanusiaan, budaya dan moral pada anak usia dini kita harus menawarkan teladan atau pola terlebih dahulu kalau ingin anak kita sopan maka harus terlebih dahulu orangtuanya sopan alasannya yakni anak usia dini itu melihat pola dari keluarga, masyarakat, lingkungan dan memang sedang berada pada proses imitasi atau meniru. Dan inipun harus berlangsung secara kontinu dan konsisten dari pendidik dan praktisi sosial.
Orangtua yakni guru terbaik bagi anak termasuk ketika mengajarkan cara mengekspresikan emosi. Berikan pola pada bawah umur sikap yang sesuai ketika sedang murka atau sedih. Berikan pula beberapa pilihan lain bagaimana cara mengekspresikan kemarahan, kegembiraan atau kesedihan. Kembangkan sikap bertanggung jawab pada anak. Misal, kalau anak menumpahkan minuman ke lantai, maka beliau harus membersihkan sendiri. Sebelumnya berikan pola dan klarifikasi mengapa ia harus melaksanakan itu.
Dari uraian di atas kiranya sanggup ditarik kesimpulan bahwa dalam melaksanakan acara pembelajaran ada faktor yang sangat penting yang harus diperhatikan oleh pendidik anak usia dini. Keberhasilan pembelajaran khususnya dan pendidikan pada umumnya harus memperhatikan strateginya.
Strategi tersebut di antaranya ada delapan. Dari delapan taktik tersebut pendidik harus melaksanakannya secara serempak dan gotong royong serta tidak mementingkan satu taktik saja dan mengabaikan yang lain.
Pengembangan Jiwa atau Karakter di Pesantren. Pesantren merupakan forum pendidikan keagamaan Islam berbasis masyarakat untuk menghasilkan lulusan yang memahami dan mengamalkan nilai-nilai fatwa agamanya dan/atau menjadi jago ilmu agama.
Pesantren dituntut supaya sanggup mengarahkan, membimbing, membina, dan menghasilkan santri yang sanggup menjalankan peranan dirinya sebagai seorang muslim dalam penguasaan fatwa agama Islam sebagai pemenuhan kewajiban-individu seorang muslim (fardlu ain ), dan/atau menghasilkan jago ilmu agama Islam sebagai pemenuhan kewajiban-kolektif umat Islam (fardlu kifayah).
Sesuai dengan tujuan itu, secara fisik setidaknya ada 5 (lima) unsur yang harus terpenuhi secara integral oleh institusi pesantren. Kelimanya ini yakni sebagai berikut:
1. Kyai, ustad atau sebutan lainnya
atau sebutan lain sesuai kekhasan wilayah masing-masing yang mengatakan kompetensi keagamaan dan kemampuan sosial yang sangat baik. Keberadaannya dalam pondok pesantren dijadikan sebagai figur, teladan, dan/atau sekaligus pengasuh yang membimbing santri dan stakeholder pesantrennya. Oleh karenanya, kyai, ustad atau sebutan lainnya itu wajib berpendidikan pondok pesantren. Sementara pengalaman berguru pada instansi pendidikan lainnya diposisikan sebagai kompetensi pendukung bagi kapasitas pengasuh pesantren.
2. Santri, minimal 15 (lima belas)
Santri yang tinggal dan berada di dalam po ndok pesantren selama 24 (dua puluh empat) jam dalam sehari dimaksudkan untuk mendalami pengetahuan keagamaan melalui serangkaian acara di pesantren, pengamalan dan pe mbinaan amaliyah ibadah, dan penanaman nilai-nilai tabiat karimah. Di samping santri mukim, pesantren juga diperbolehkan untuk mendapatkan santri yang tidak mukim atau biasa dikenal dengan santri kalong. Namun, keberadaan santri kalong ini tidak menjadi unsur pokok pondok pesantren, melainkan sebagai faktor penunjang atau pemanis aspek kesantrian.
3. Pondok atau asrama
Pondok atau asrama ini dimaksudkan untuk daerah tinggal dan pemenuhan kebutuhan sehari-hari bagi santri.
4.Masjid/mushalla
Sebagai daerah ibadah, masjid/mushalla sanggup dipakai oleh masyarakat sekitar. Hal ini dimaksudkan supaya terjadi interaksi antara pesantren dengan masyarakat dan menghindari eksklusivisme pesantren. Selain difungsikan sebagai daerah ibadah, masjid/mushalla itu sanggup difungsikan juga sebagai daerah proses pembelajaran dan kajian ilmu-ilmu keislaman.
5.Kajian kitab kuning
Dengan contoh pendidikan mu’allimin untuk mendalami pengetahuan dan wawasan keagamaan Islam. Jika kitab kuning merupakan beberapa lit eratur tertentu yang biasanya dikaji dari awal sampai simpulan maka dirasah islamiyah dengan contoh pendidikan mu’allimin merupakan kumpulan kajian wacana ilmu agama Islam yang tersusun secara terstruktur, sistematik dan terorganisasi yang bersifat integr atif memadukan ilmu agama dan ilmu umum dan bersifat komprehensif dengan memadukan intra, ekstra dan kokurikuler, yang oleh sebagian pesantren dikenal dengan sebutan sistem madrasy.
Namun demikian, baik kitab kuning maupun dirasah islamiyah dengan contoh pendidikan mu’allimin, keduanya mempunyai 3 (tiga) kriteria dasar, yaitu memakai literatur berbahasa Arab, literatur tersebut mempunyai akar historis-akademis dengan pesantren, dan kandungannya sesuai nilai-nilai Isla m-keindonesiaan, yakni menjunjung tinggi nilai-nilai Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, Negara Kesatuan Republik Indonesia, Bhinek a Tunggal Ika, keadilan, toleransi, kemanusiaan, keikhlasan, kebersamaan, dan nilai-nilai luhur lainnya serta mengembangkan pemikiran yang tawazun, tawasuth, santun, inklusif, anti-radikal, menghargai perbedaan dan budaya lokalitas. Oleh karenanya, pesantren akan terus memperjuangkan keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.
Dalam proses penyelenggaraan pendidikannya, pesantren mengembangkan jiwa atau karakteristiknya sebagai berikut:
1.Jiwa NKRI dan Nasionalisme
Jiwa Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan nasionalisme merupakan prinsip utama dalam penyelenggaraan sistem pendidikan yang dikembangkan di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Semua forum pendidikan, termasuk pondok pesantren, yang berada di dalam wilayah teritori NKRI harus menjunjung nilai-nilai keindonesiaan, kebangsaan, kenegaraan dan persat uan yang didasarkan atas NKRI, Pancasila, Undang-Undang Dasar 1945, dan Bhinneka Tunggal Ika.
2.Jiwa Keilmuan
Jiwa keilmuan ini melandasi pada seluruh stakeholder dan civitas akademika pondok pesantren untuk menimba, mencari, dan mengembangkan ilmu pengetahuan yang tidak henti. Bagi kalangan pondok pesantren, mencari ilmu pengetahuan merupakan keharusan yang dilakukan sampai meninggal dunia. Demikian juga dengan semangat untuk mengembangkan dan mengembangkan imu pengetahuan kepada masyarakat merupakan bab dari ib adah sosial sebagai pengejewantahan itikad meraih imu pengetahuan yang bermanfaat ( al-ilm al-nafi’).
3.Jiwa Keikhlasan
Jiwa keikhlasan yang tidak didorong oleh ambisi apapun untuk memperoleh keuntungan-keuntungan tertentu tetapi semata-mata demi ibadah kepada Allah. Jiwa keikhlasan termanifestasi dalam segala rangkaian sikap dan tindakan yang selalu dilakukan secara ritual oleh komunitas pondok pesantren. Jiwa ini terbentuk oleh adanya suatu keyakinan bahwa perbuatan baik mesti dibalas oleh Allah dengan akhir yang baik pula, bahkan mungkin sangat lebih baik.
4.Jiwa Kesederhanaan
Sederhana bukan berarti pasif, melarat, nrimo dan miskin, tetapi mengandung unsur kekuatan dan ketabahan hati, penguasaan diri dalam menghadapi segala kesulitan. Di balik kesederhanaan itu, terkandung jiwa yang besar, berani, maju terus dalam menghadapi perkembangan dinamika sosial. Kesederhanaan ini menjadi identitas santri yang paling khas di mana-mana.
5.Jiwa Ukhuwah Islamiyyah
Ukhuwah islamiyyah yang demokratis ini tergambar dalam situasi dialogis dan dekat antar komu nitas pondok pesantren yang dipraktekkan sehari-hari. Disadari atau tidak, keadaan ini akan mewujudkan suasana damai, senasib sepenanggungan, yang sangat membantu dalam pembentukan dan pembangunan idealisme santri. Perbedaan yang dibawa oleh santri saat masuk pondok pesantren tidak menjadi penghalang dalam jalinan yang dilandasi oleh spiritualitas Islam yang tinggi.
6.Jiwa Kemandirian
Kemandirian di sini bukanlah kemampuan dalam mengurusi persoalan-persoalan intern, tetapi kesanggupan membentuk kondisi pondok pesantren sebagai institusi pendidikan Islam yang merdeka dan tidak menggantungkan diri pada tunjangan dan pamrih pihak lain. Pondok pesantren harus bisa berdiri di atas kekuatannya sendiri.
7.Jiwa Bebas
Bebas dalam menentukan alternatif jalan hidup dan menentukan masa depan dengan jiwa besar dan sikap optimistis menghadapi segala problematika hidup menurut nilai-nilai Islam. Kebebasan di sini juga berarti tidak terpengaruh atau tidak mau didikte oleh dunia luar.
8.Jiwa Keseimbangan
Jiwa keseimbangan pada pondok pesantren dimanifestasikan atas kesadaran yang fundamental atas fu ngsi insan baik sebagai hamba Allah maupun sebagai khalifah di muka bumi. Sebagai hamba Allah, insan diwajibkan untuk beribadah dan menjalin hubungan-personal secara vertikal dengan Allah melalui serangkaian ibadah-ibadah mahdlah dan fasilitasi ibadah lainnya. Sebagai khalifah di muka bumi, insan diwajibkan untuk menjalin komunikasi, kerjasama, dan kekerabatan sosial-horizontal antara sesama dan pemanfaatan alam semesta secara serasi untuk kepe ntingan kemanusiaan secara luas.
Kedua fungsi ini senantiasa mendasari dalam sikap dan sikap keberagamaan, contoh pikir, dan acara sehari-hari secara seimbang.